Senin, 10 Desember 2018

KEPASTIAN

Well,
Hari ini tulisanku mewakili perasaan mereka yang mungkin berada di posisi yang sama.
Menahan setiap tanya, akankah berujung bahagia ataukah ikhlas menerima pahit dan luka.

Percayalah,
Kamu tidak akan tahu yang sebenarnya sampai kalian memutuskan untuk bertanya langsung kepadanya. Perihal hasil biarlah nanti urusannya, setidaknya, rasa dihatimu bisa terselesaikan.

Adakah kalian yang telah lama mengenal seseorang dalam hitungan tahun dan hanya kepadanya saja kamu merasa begitu dekat?
Namun, ada sekat ketika hendak bertanya siapa kita? Bagaimana kita?
Sama, aku pun merasakannya. Hingga pada akhirnya, aku memberanikan diri, mempertaruhkan ego dan harga diri, kali-kali salah rasa dan ditolak. Sakit.
Hal semacam ini mungkin terasa begitu mudah untuk para lelaki, tapi ketahuilah, mayoritas si wanita akan kesusahan mencari jawab persoal 'kepastian'.

Kalimantan-Palembang tidak bisa dikatakan dekat. Ada banyak pertimbangan untukku memulai tanya. Entah kerasukan apa aku semalam, bertanya tanpa babibu, "Abang, punya niatan ngajak aku ke jenjang serius ga sih? Atau cuma gini-gini aja terus? Ya, mungkin biasa menurut kamu, tp ini penting buat aku"

Ada banyak cakap yang dia utarakan, tapi tak ada satupun kutemukan titik terangnya. Kalau cuma sebatas jawaban universal 'be like' :

"Aku kudu jawab gimana yak, aku bingung ya liat aja gimana kedepanya, mba. Jodoh, maut, rezeki sudah ada yang ngatur jadi tugas hambanya berusaha dan berihtiar masalah hasil sudah dituliskan.  Jadi kudu bilang piye ? Bukanya apa-apa disaat hambanya bilang "A" tapi kata Ya Rohim "B" berarti itu yg terbaik. Tugas hambanya meyakini ketetapannya tanpa mendahului apa yang sudah dituliskan di garis tangan hambanya"

Awalnya, rasanya hatiku patah. Kukira ini adalah akhir dari kisah kedekatan diantara kami. But, ya, utarakan dulu semuanya, setelah itu ambil satu kesimpulan dan keputusan.

"Hmm gimana ya,
Emang hasilnya Allah yg nentuin, tp perkara niat kan trgantung manusianya. Ehehe.
Dan aku posisinya cuma nanya niatannya aja gimana, ada atau nggak" balasku cepat.

"Kalo niat sih ada. Tapi mau gimana, kan kudu di jalanin dulu. Kalo hasilkan Allah yang nentuin"

Mendekati, tapi jawaban ini masih klasik bagiku. Jawaban universal yang semua orang bisa jawab hal yang sama. Aku masih belum bisa menerima, aku mau yang lebih. Kepastian yang bisa menenangkan.

Aku bertanya sekali lagi, "Abang ada niatan serius gak ke aku? Kalo iya, bilang iya. Kalo nggak, ya enggak. Udah clear."

"Karena buat aku tuh komitmen itu di awal bukan di akhir. Gimana ke depannya ya ngiring, anggap aja resiko atas keputusan yg diambil. Masalahnya tuh gimana aku bisa ambil keputusan kalo aku pun gak ada pegangan berupa kepastian iya atau nggaknya" tambahku dengan nada geram.

Rasa-rasanya, kepalaku semakin berat. Ada banyak emosi bermunculan, ada banyak protes yang ingin disampaikan. Entah berapa lama lagi aku harus menunggu hasil akhirnya.

"Menurut mbak beberapa tahun ini cuma bercanda? Cuma iseng aja gitu ??" bentaknya.

Hell yeah, that's a point baby!!
Entah kenapa, untuk bentakan yang satu ini, aku tak merasa kesal sama sekali. Aku bahagia, sungguh. Akhirnya.

"Kan mbak kenal aku bukan hitungan bulan mba, masa dikira bercanda" ucapnya sekali lagi dengan suara yang mulai direndahkan.

"Ih abang ini gak peka nian, aku nanya ke abang tuh ya aku mau mastiin kalo aku tuh gak ngerasa baper sendirian ih"

"Hahaha....  Ya, mba pan tau aku gimana. Aku jadi cowok juga gak akan bertahan bertahun-tahun kalo gak ada niatan serius"

"Ih, udah sana kerja aja lagi," bentakku mengakhiri percakapan kami siang ini.


Finally, for the long time, i can say that i'm so lucky to getting of your heart. Come to me and let's take the party!!