Kamis, 09 April 2020

21 Maret 2020 : Menuju Rumah

"Ayo jalan sampe sana", ajakmu.

Aku mengangguk cepat tanda mengiyakan pintamu. Namun, aku berjalan tertinggal dibelakangmu dengan menenteng bingkisan buah tangan dari kotamu. 

Bukan karena kamu yang meninggalkan aku di belakang, tapi aku; aku yang dengan sengaja mengecilkan langkahku.

"Wellcome to Palembang", ucapmu dengan penuh semangat saat itu.

Mata teduh dan bersinar itu terus saja berhasil membuatku terperangah. 

"Hehehe, iya"

Harusnya aku yang mengucapkan kata-kata Wellcome to Palembang, bukan kamu. Harusnya aku lebih bersemangat saat menjemputmu. Harusnya aku yang lebih berinisiatif dalam memulai cerita. Ini kotaku, tapi seakan kamu lebih tahu dan mengambil alih apa-apa yang harusnya menjadi bagianku.

***

"Orang rumah sudah tahu?"

"Apa?"

"Hm.. Orang rumah sudah tahu aku mau ke sini?"

"Oh iya, mama sama papa sudah tahu. Aku juga sudah cerita, makanya aku bisa jemput abang tadi"

"Ya, bagus. Hehe"

"Kata mama sama papa, nanti beberapa hari ke depan abang rehat di rumah aku aja. Kan sendiri juga"

Percakapan-percakapan kecil terjadi begitu saja di dalam mobil, seakan telah bertemu sebelumnya. Seluruh tubuhku terasa hangat, suara lembut itu terus terngiang di kepala.

Rasa minder dan ketakutanku perlahan luntur. Yang tadinya begitu jauh dan tak terjangkau, kini begitu dekat. Ingin rasanya kudekap erat. 

***

Perjalanan dari bandara ke rumahku tidak begitu jauh bagiku. Namun, bagimu yang baru pertama kali tentu cukup merasa perjalanan tersebut lumayan jauh.

Sepanjang perjalanan ada khawatir yang masih tersisa tentang bagaimana respon keluargaku terhadapmu dan bagaimana reaksimu saat bertemu keluargaku?

Bagaimana denganmu? Apa yang kamu rasakan saat itu? Ah, rasanya ingin sekali aku mengetahui segala isi yang ada di kepalamu.

***

Ada banyak kata yang tak mampu aku ucapkan saat itu. Seuntai terima kasih ingin kuutarakan kepadamu. Bisa kah aku gantikan kali ini lewat literasi saja? 

Terima kasih telah meluangkan waktu untuk menemuiku. Terima kasih telah bersedia hadir di tengah keluargaku. Terima kasih telah mematahkan segenap ragu tentangmu. 

***





21 Maret 2020 : Di Bandara SMB PLG

21.03.2020
17:49:01 

Meski tak terucap, ada banyak andai yang dulu telah tersemogakan hari itu. 

Beberapa tahun lalu, aku pernah mengalami patah sepatah-patahnya. Hingga aku sempat tak ingin merasakan apapun karena tak ingin merasa patah sekali lagi.

Kabar tentang kedatanganmu pada beberapa waktu lalu, jujur saja adalah hal yang aku tunggu. Akan tetapi, setelah waktu semakin dekat, kekhawatiranku pun ikut meningkat.

Ada banyak tanya di kepala yang tak bisa aku ucapkan. Ada banyak rasa yang tak bisa aku sampaikan. Sampai waktunya, aku harus memastikan diriku sedang baik-baik saja.

***

Detik-detik menunggu kamu mendarat di Palembang adalah waktu berharga yang tak sanggup untuk aku uraikan. Perasaan takut, minder, malu bercampur menjadi satu. 

Denganmu adalah pertama kali. Hampir semuanya kulalui untuk yang pertama sepanjang aku bernapas. 

Dimulai dari dua minggu sebelum kamu datang, aku rajin bolak balik klinik kecantikan untuk perawatan. (re: pertama kalinya aku ambil full perawatan di klinik berikut paket skincare-nya). Pada saat itu, aku hanya takut merasa buruk rupa. Aku akan merasa bersalah, jika kamu datang dari jauh dan menghabiskan banyak budget lalu menemuiku dengan rupa yang tak bisa dinilai. Lucunya, aku tidak menjadi cantik pun seperti selebritis yang keluar masuk klinik kecantikan serupa. Pasrah; itulah jalan satu-satunya.

***

Hari itu, aku tidak ingat baju model apa yang kamu kenakan. Warna baju apa yang kamu pakai. Aku tidak ingat sama sekali. Rasanya ingin sekali aku memaki dan mengutuk diriku sebab tak bisa mengingat hal remeh seperti itu. 

Ya, yang aku ingat hanya mata itu. Mata sendu yang tersisa sebab masker yang kamu kenakan hampir menyelimuti seluruh area wajahmu.

Tatapan mata yang begitu hangat, anggukan kecil yang tidak menghakimi. Senyum lembut yang ditampakkan setelah masker wajah dibuka. Membuat hariku begitu berbeda. Ingin rasanya aku dekap tubuh itu untuk menumpahkan segala rindu. Namun, kutampikkan karena aku merasa tidak begitu pantas untuk menerimanya.

"Sudah ini kita ke arah mana?" tanyamu.
"Nggak tahu", balasku lekas.

Hahaha. Bodohnya aku yang selalu membalas pertanyaanmu dengan kata tidak tahu. 

Ah, seharusnya saat itu, kamu membiarkan aku beberapa menit untuk mengistirahatkan jantung yang melonjak cukup hebat. Atau setidaknya beri aku sedikit jeda untuk melepas bahagia. 

***

Hari itu adalah malam minggu pertama yang aku lalui bersama seseorang yang kehadirannya benar-benar aku nantikan. 

Seperti yang kamu tahu, untuk pertama kalinya aku melangkahkan kaki ke bandara. Dan di hari itu pula pertama kalinya aku berinisiatif untuk menghampiri lelaki lebih dahulu. Rasanya aku seperti tidak menjadi aku pada saat itu. 

Rasanya aku ingin tahu apa yang kamu rasakan saat pertama kali melihat aku dengan segenap kebodohanku itu?

***

Beberapa saat kemudian, kamu melirik jam di tangan kananmu sembari memainkan handphone di tangan yang sama Barangkali di kepalamu sedang riuh tentang bagaimana bentuk perjalanan selanjutnya setelah mendaratkan kedua kakimu di kota Pempek ini.

Begitupun dengan aku yang juga riuh dengan isi kepala. Aku bisa pergi, tapi aku lupa cara pulang. Haha. Bodohnya aku tuh gak sekali, tapi berulang. Aku lupa kalo di bandara aplikasi gojek tidak berlaku. Masalahnya aku tak ada aplikasi lain selain gojek. 

Untung saja kamu cepat respon dengan memakai aplikasi lain;grab; lalu menyodorkan handphone kepadaku untuk mengetik alamat yang dituju, rumahku.

Ada perasaan hangat yang tak bisa aku jelaskan pada saat itu. Aku pun tak mampu membuka suara. Seperti gadis kecil yang diam ketika diberi mainan kesukaannya. Kalem.

Selain itu, tanpa kamu sadari, aku mengecilkan langkahku agar bisa memandangi punggungmu. Aku sengaja mengambil langkah sedikit di belakangmu agar aku bisa melihat seberapa semangatnya kamu hadir di depanku. Atau setidaknya jika kamu berubah pikiran nantinya, aku telah membiasakan diriku sedari awal agar tetap terbiasa tidak membersamaimu.

***

Family Gathering Palembang Office

14 Agustus 2018 Ini merupakan acara dadakan, yang baru direncanakan pukul empat sore, pas dengan waktu pulang kantor. Tadinya sempat ...